Showing posts with label Cerber. Show all posts
Showing posts with label Cerber. Show all posts

Sunday, May 3, 2015

Janjimu Janji Gombal III

Adit hanya bisa melongo memandangi hp nya yang mati. Ia sudah membayangkan malapetaka apa yang akan ia hadapi setelah kejadian ini. Ia membuat gambaran sendiri seperti apa reaksi ceweknya. Meminta maaf pun rasanya sudah tak berguna. Perasaanya penuh beban dan rasa bersalah makin menggerogoti. Sampailah pada satu keputusan pasrah, menyerah dan putus asa.
Apa yang terjadi biarlah terjadi. Aku yang salah. Aku yang salah. Baiklah, semua sudah terlanjur. Menyesal pun tak ada guna lagi. Memohon pun tak pantas lagi. Meskipun berat, jika harus menerima keputusan yang paling pahit pun ia siap menerimanya. Batin Adit dengan perasaan putus asa.  Ia tersadar dari kamunan panjangnya tak kala mendengar pintu kamar mandi di gedor-gedor dan suara cewek memanggilnya dengan keras.
"Nina...." bantin Adit
"Kamu tuh ngapain sih Dit! Tidur! Nyebekin banget sih jadi orang!"
Ahhh... Serba salah. Serba salah. Kekuh Adit
"Ia ia... bentar"

Ia membuka pintu. Wanita yang baru saja menggedor pintu sudah berlalu. Ia segera menyusul ke ruang rapat. Setelah meminta maaf pada semua ia berusaha kembali fokus dengan kerjanya. Yang terjadi biarlah terjadi. Kata-kata itu seolah menjadi mantra yang mampu mengembalikan konsentrasinya, mengembalikan ketenangannya menghadapi setiap pertanyaan dari klien nya. Ia harus profesional, batinnya lagi. Ia menjawab dan menjelaskan artikel apa saja yang bisa dipenuhi olehnya untuk mengisi web klien nya.

Setelah puas mendengar penjelasan Adit, pak Martin setuju dengan kesepakatan yang sudah di bahas dengan pak Hendi, atasan Adit. Mereka di percaya mengelola sepenuhnya konten website pak Martin dengan masa kontrak tiga tahun.

"Baiklah pak Martin, kami sangat berterimakasih atas kepercayaan ini. Kami tidak akan mengecewakan bapak"
"Sama-sama pak Hendi. Saya percaya, tim bapak akan memberikan yang terbaik buat perusahaan saya. Sekali lagi  terimakasih dan saya mohon pamit"

Setelah bersalaman, pak Hendi dan tiga anak buahnya mengantar pak Martin sampai di tempat parkir. Mobil Pajero berlalu dengan gagah membawa pak Martin. Atasan dan ketiga anak buahnya tak mampu menyembunyikan rasa gembiranya. Bersamaan mereka melingkar dan menyatukan tangan kemudian menghempaskan ke atas sembari berkata "SUKSESSS...!". Setelah memberikan sedikit arahan ke tiga anak buahnya, pak Hendi melihat jam tangan yang sudah menunjukan angka 20.30. Pak Hendi hendak mengajak ke tiga anak buahnya untuk makan dulu.

"Waduh pak, saya minta maaf tidak bisa ikut. Ada urusan yang harus saya selesaikan sekarang. Biar Rio sama Nina aja yang ikut makan. Saya pamit dulu ya pak"
"Baiklah, kalau begitu kamu selesaikan urusan kamu. Biar Nina sama Rio ikut aku makan dulu"
"Iya pak. Terimakasih. Permisi"

Adit segera berlalu menuju pos satpam, meminjam kunci sepeda motor kantor dan membawanya pulang. Yang terlintas dipikirannya saat ini hanya satu. Bagaimana cara meminta maaf ke ceweknya dan bagaimana agar ceweknya memaafkan.

Sepanjang perjalanan Adit terus memikirkan kemungkinan-kemungkinan terburuk sikap ceweknya. Sebelum masalah ini muncul, dua hari lagi Adit dan ceweknya berencana pergi ke Jakarta mengikuti sebuah acara. Jika ceweknya tak memaafkan kesalahan Adit, kemungkinan terburuk ceweknya tidak mau diajak pergi dan tiket yang sudah dibeli hangus, biaya acara hangus. Sebenarnya itu tak jadi soal dan tak menjadi bebannya. Hanya saja, ia sangat ingin ceweknya ikut acara yang setiap bulan dia ikuti. Ia ingin ceweknya juga merasakan yang ia rasakan. Tapi, karena kesalahan dia sendiri kemungkinan rencana itu terwujud jadi kecil. Satu kemungkinan lagi yang sebenarnya tak ingin ia pikirkan namun muncul tiba-tiba di kepalanya, 'ceweknya ngajak putus!"

"Duuuuooooonn....!!!" Bunyi klakson bus mememikan telinganya dan sinar bus itu menyilaukan matanya hingga terbelalak.
"Bruuuuuaaakkk...."


Friday, May 1, 2015

Janjimu Janji Gombal II

Sepanjang perjalanan Adit tidak bisa konsentrasi. Pikirannya teringat terus janji yang sudah dibuat dengan ceweknya. Seharusnya, jam 5 dia mengantar ceweknya ke salon, makan bareng dan mencari perlengkapan yang akan dia bawa ke Jakarta bersama ceweknya. WA, BBM mati karena kehabisan kuota internet. Cek pulsa untuk sms tertera angka 90 rupiah. Ah... keluhnya. Ia berniat minta pulsa Rio untuk memberi kabar ceweknya, yang pasti sudah merah padam wajahnya karena marah menunggu dirinya yang tak kunjung datang. Ia membayangkan betapa murka ceweknya.
"Dit, bagi pulsa dong. Lupa lom isi nih mau tlp"
"Yah... Yo, baru aja aku mau minta sama kamu. Pulsa q juga habis ini. Minta sama Nina aja"
Adit melirik Nina yang lagi mengemudi lewat kaca spion mobil dibagian depan. Masih tersisa muka masam di wajahnya. Mungkin Nina masih bt sama aku. Pikir Adit. Ia menyenggol Rio yang juga duduk di sebelahnya, di jok belakang. Adit memberi kode dengan matanya agar Rio meminjam hp Nina. Tapi Rio membalas dengan menggelengkan kepala. Dengan muka putus ada, Adit membatin, Mau tak mau harus menunggu sampai kantor agar dapat wifi.
Nina yang dari tadi diam dan memasang muka masam segera membelokkan mobilnya ke tempat parkiran. Mereka bertiga turun dan langsung masuk ke dalam kantor. Pak Hendi, pimpinan rumah kata langsung mengajak mereka menemui kliennya untuk membicarakan artikel-artikel yang akan di pesan untuk situs web nya.

"Dit, kamu sudah menyiapkan sample artikel yang dipesan pak Martin?"
"Sudah pak"
"Baiklah. Mari kita temui pak Martin. Ini proyek besar. Kalian bertiga harus bagus dan bisa meyakinkan pak Martin. Nina, Rio kalian siap?"
"Siap pak!" Jawab mereka kompak

Adit mengikuti langkah pak Hendi menuju ruang rapat bersama dua rekannya. Di kepalanya masih tercengkeram janji ke ceweknya. Satu jam sudah berlalu, tapi dia belum bisa menghubungi ceweknya. Di kantor itu memang bisa mengakses wifi hampir disetiap sudut kantor. Namun apa daya. Waktu tak mengijinkan melakukan hal itu barang semenit pun. Otaknya terus berputar mencari cara agar bisa memberi kabar ceweknya. Rasa bersalah terus menggerogoti batinnya. Jika baru sekali hal itu terjadi, mungkin tak jadi soal. Tpi hal itu terjadi lebih dari tiga kali. Hanya satu penyakitnya. Lupa dengan jadwal yang ia bikin sendiri.

Adit kaget ketika Nina dan Rio yang baru saja selesai presentasi di depan pak Martin memanggil dan memintanya menunjukan sample artikel-artikelnya yang dibuatnya.

"Oh... ini pak... anu..., maaf, saya ijin ke belakang sebentar. Perut saya sakit pak. Nina dan Rio yang akan menjelaskan artikel ini"

Dia segera menyodorkan lembaran artikel itu ke pak Martin yang langsung mempelajarinya. Adit segera ngeloyor keluar menuju kamar mandi. Enam pasang mata neran melihat sikap Adit yang aneh. Namun Adit tak mempedulikan mereka. Dia segera ngeloyor ke kamar mandi berniat mengakses wifi agar bisa menghubungi ceweknya.

Hampir 2 jam waktu sudah berlalu. Dia segera mengunci pintun kamar mandi agar tak ada yang menggangu. Ia membayangkan wajah ceweknya yang pasti sudah merah padam. Darahnya mendidih hingga ke ubun-ubun hingga mengeluarkan tanduk siap menyeruduk tubuhnya yang tak begitu kekar. Sekali seruduk pastilah tubuh itu terpelanting puluhan meter. Ia segera mengambil hp nya di saku tas. Seketika dinyalakan. Di layar muncul notifikasi, 25 panggilan tak terjawab dari ceweknya.

"Astagaaa....." keluh Adit yang kaget sambil menutup mata. Tak mau memikirkan itu ia segera menyalakan layanan wifi. Muncul tukisan Terhubung. Aaahhh... Batin Adit lega setengah mati. Ia sudah siap jika ceweknya akan marah-marah. Ia segera menekan layanan call di aplikasi bbm. Tidak sampai satu menit, muncul notifikasi di layar hp nya. 'Batrey low'.
"Hah? Anjriiiittt...!" Tak sanggup lagi mulutnya berkata. Jika tak malu, mungkin dia memilih pingsan disitu. Ia menyimpulkan semua kejadian ini pasti pertanda buruk untuk hubungannya.

"Ini pasti pertanda buruk... pasti... aahhhh... sial.. sial... siaaalll..." umpatnya dalam hati.


Wednesday, April 29, 2015

Janjimu Janji Gombal I

"Say... ntar aku ikut kamu ya"
"Ikut kemana?"
"Ikut ke tempat kamu. Mau numpang cuci. Trus minta tolong antar aku potong rambut"
"Jam berapa yank? Emang sore km udah pulang kerja?"
"Udah. Ntar jam 5 aku udah pulang"
"Oh, oke. Kalau sore bisa. Tapi kalau malam aku gak bisa, ada kerjaan"
"Sore kok"
"Oh... oke dah... siaap! :)"
Setelah chatting, Adit menutup aplikasi WA-nya dan melihat jam digital di layar tablet-nya tertera angka 15.30. Ia duduk di kursi, menguap sambil meluruskan badanya. Matanya mulai meyipit, menahan kantuk setelah semalaman dia begadang membaca novel-nya hingga halaman terakhir.
Ia beranjak dari ruang menulisnya meninggalkan ps yang masih menyala dan pindah ke ruang tv. Berniat merebahkan diri sebentar, menghilangkan rasa kantuk yang melanda, sambil melihat berita setelah pemerintah Indonesia melaksanakan eksekusi mati terhadap delapan gembong narkoba.
Australia mengecam keras eksekusi mati dua warganya yang dilakukan pemerintah Indonesia. Tulisan kecil dibagian bawah layar kaca masih sempat ia baca. Ia menganti chanel, mencari-cari tayangan hiburan. Tapi nihil, semua chanel tv memberitakan tentang eksekusi mati gembong narkoba yang banyak mendapat tentangan.

Perlahan namun pasti, tanganya mulai mengendur. Jari jemarinya mulai terkulai lemas dan remote tv digenggamanya terjatuh. Kini keadaan berbalik. Tv melihat dirinya tergeletak tak berdaya. Jika saja penyiar berita tahu sikap itu, tentu tak akan suka. Disaat semua mata dan telinga tertuju pada satu informasi tentang eksekusi mati gembong narkoba, dengan santai-nya ia mendengkur begitu nikmatnya.
Waktu berlalu begitu cepat. Tak terasa satu setengah jam berlalu. Kaget bercampur bingung melanda Adit saat dua rekan kerjanya tiba-tiba datang dan mengguncang-guncang tubuhnya. Belum sepenuhnya ia sadar sudah diberondong dengan pertanyaan salah satu temanya.

"Dit, bangun!. Kamu ini gimana sih? Udah jam 4. Ayo  cepat siap-siap. Kita berangkat"
"Ha? Berangkat kemana Nin?"
"Aduh.... kamu ini gimana sih. Jam 4 ini kita harus berangkat ke kantor"
"Ha? Ke kantor ngapain?"
"Aduh Adit... kamu sendiri kemarin yang bilang. Ajak aku ke kantor jam 4. Kamu bilang ada klien yang mau memesan ratusan artikel untuk website-nya. Gimana sih?"
"Ha? Aku bilang gitu ya? Aduh Nin. Aku gak bisa. Aku ada... aduh aku gak bisa Nin. Kamu aja ya yang ke kantor?"
"Gak bisa! Kamu yang ngajak dan yang bikin janji. Masa kamu malah gak datang. Ayo cepet siap-siap. Udah jam berapa ini?"
"Nin.. Aku ada..."

Nina tak mempedulikan jawaban Adit. Dia ngeloyor dan langsung duduk di teras depan rumah Adit. Rio yang dari tadi duduk di teras cuma cengengesan melihat ekspresi bt wajah Nina. Ia menduga Nina habis mencak-mencak ke Adit. Ia ingin ngakak melihat Nina. Namun, ia mengurungkan niatnya. Dari pada kena semprot juga mending diam aja deh. Pikir Rio.
Adit masih bengong di ruang tv. Ia berusaha mengingat janji yang di katakan Nina. Nampaknya otaknya masih belum conect sampai tak mampu mengingat janji yang ia buat sendiri. Yang terlintas di otaknya hanya jam 5. Jam 5 dan jam 5. Terlintas wajah bt ceweknya setiap kali dia lupa janjinya. Seketika juga wajah itu berganti ekspresi Nina yang juga bt. Ah... ia menjambak rambutnya sendiri dengan ekspresi menyesal, bersalah dan campur aduk lainya. Ia segera melangkah menuju kamar. Dipikirannya hanya ada angka 4,5,4,5,4,5... dibarengi ekspresi dua wajah yang saling menuntut janji
"aaaarrrrhhhhh ...." tiba-tiba terdengar teriakan keras dari kamar mandi...