Showing posts with label puisi. Show all posts
Showing posts with label puisi. Show all posts

Thursday, August 18, 2016

MERAJUT LANGKAH

Saat embun pagi hendak mentes
Meninggalkan daun-daun yang masih terlelap
Merambati pori-pori bumi
Lalu, terhisap habis oleh segerombol akar 
Saat itu pula jermari kaki kita melangkah, memijaknya
Menyisakan lumpur tanah yang mengering terbakar matahari di antara celah jemari kaki

Semakin hari, kian jauh... jauh dan menjauh jemari berlari
Berkelana kian kemari, menari, menyandung, menyepak, memanjat dan kadang meloncat
Jemari kaki ku, kaki mu, kaki kita dan kaki mereka
Tiada lelah tuk terus membelah segenap tanya yang tersisa
Puluhan bahkan ratusan persimpangan tlah terlewati
Setiap persimpangan punya cerita sendiri
Namun, jari jemari kita tetap menyeret kita tuk kembali ke satu titik awal.
Pulang tuk menanjaki mimpi di tanah lahir kita.

Jemari kaki ku, kaki mu, kaki kita dan kaki mereka
Jarang bertegur sapa, jarang melewati persimpangan yang sama
Bahkan jarang dan hampir tak pernah beriringan bersama
Jalan yang dipilih kaki ku, kaki mu, kaki kita dan kaki mereka tak sama
Namun, kita meyakini pada saatnya nanti langkah kita kan menyatu


Kaki ku, kaki mu, kaki kita dan kaki mereka tlah mengikat janji
Janji tuk terus melangkah merajut kisah-kisah yang indah meskipun kadang getir
Terus dan terus merajut langkah kita hanya hendak meninggalkan sejarah agar kelak menjadi kisah yang indah di tanah lahir kita

Monday, August 15, 2016

ADAKAH ITU DIA

Adakah dia tak ada cela
Adakah dia tak ada luput
Adakah dia tak ada dusta

Adakah dia itu manusia jika tak punya cela
Adakah dia itu manusia jika tak punya luput
Adakah dia itu manusia jika tak punya dusta

Adakah dia itu masih masih menginjakan kaki di bumi jika tak ada cela
Adakah dia itu masih menghirup hawa di semesta jika tak ada luput
Adakah dia itu masih bisa berucap jika tak ada dusta

Adakah dia seperti itu ujud dan rupanya
Adakah dia seperti itu tingkah dan lakunya
Adakah dia seperti itu tutur dan katanya

Aku bukan ia yang tak ada cela
Aku bukan ia yang tak ada luput
Aku bukan ia yang tak ada dusta

Betapa akunya aku jika tak punya cela, luput dan dusta
Betapa akunya aku jika tak ada cacat dan cela dalam segenap jiwa dan raga ku
Betapa akunya aku jika bisa sempurna

Jika sudah tak ada barang sebutir debu pun yang sanggup kau lihat akan indah ku
Jika sudah tak ada barang sehelai pun yang sanggup kau lihat tuk menutup telanjang ku
Jika sudah tak ada barang setitik pun yang sanggup kau lihat tuk menutup lubang ku

Benar adanya jika kau tak lagi percayai aku, meskipun dalam gelap aku terus berjuang rabai segenap sukma mu tuk ku genggam erat selamanya

Sunday, August 14, 2016

CINTA YANG TERTUSUK


Luka memang luka
Sakit memang sakit
Perih memang perih
Lara memang lara

Lukaku
Sakitku
Perihkku
Laraku

Sanggup ku tahankan
Sanggup ku sembuhkan
Sanggup ku pulihkan
Sanggup ku hilangkan

Tapi
Tuturnya menusuk ku
Tuturnya menusuk mu
Tuturnya menusuk mereka
Tuturnya menggores luka baru

Kini
Sakitku terasa sakitmu
Sakitmu terasa sakitku
Kita sama-sama tersakiti

Aku ingin kau tetap erat genggam jari ku
Aku ingin kau tetap menjajari aku menyeberangi waktu
Aku ingin kau tetap ada bersamaku menyembuhkan lara yang baru

Saturday, August 13, 2016

DINDING DINDING BAJA

Gemuruh membuncah mengaduk segenap isi dalam dada
Gemuruh menggulung, melipat-lipat, membekuk-bekuk gejolak rasa
Gemuruh berteriak, menjerit-jerit, meraung-raung bak singa kelaparan
Gemuruh menjadi-jadi, menggumpal membentuk sekepal tangan yang tersemat di dada
Gemuruh makin membara menyalakan bara-bara api dalam dada
Bara api menya-nyala, menganga, membakar kepalan tangan dalam dada
Jari jemari melipat-lipat berulang kali,
Ibu jari menutup, menyatukan energi dari seluruh inti
Sekepal tangan menghantam keras dinding-dinding baja yang tetap kokoh bercokol dalam jiwa

MAK E

Mak e... 
Tangguh mu 
Tabah mu 
Luar biasa mu 
Tahan mu 
Di saat masa sulit Teladan buat ku
Mak e... 
Di saat lengkingan serasa bak jarum di telinga 
Di saat teriakan serasa menghantam ulu dada 
Di saat tutur kata tak senada menggungcang logika 
Di saat detak jarum jam tak pernah berhenti memaksa mata tuk terus terjaga 
Kau Mak e... kau... tetap sabar dan merengkuh anakmu... dengan segenap rasa... 
Mak e... Semoga dalam setiap detak jarum jam, aku pun mampu sepertimu
Mak e...

Friday, July 1, 2016

DIKAU...

Dari ujung hingga pangkal...

Dari atas hingga dasar...

Dari depan hingga belakang...

Dari awal hingga akhir...

Dikau...

Bak pelangi lukisan semesta...

Bak awan putih terarak angin di langit biru...

Nan indah... nian menawan...

Dikau...

Bening embun di pucuk mawar...

Semburat asa dikala pagi...

Dikau...

Kehangatan...

Kelembutan...

Keindahan...

Dan... Kebahagiaan...

Sebait kata tuk ungkap kagum ku akan mu...


Sunday, September 20, 2015

MEREMAS KUNCUP MAWAR BERDURI


Jejak embun masih membekas

Daun kering tampak tirus tinggal uratnya

Kuncup mawar muda memandang dengan angkuhnya

Duri-duri yang memagarinya tampak gagah berjaraj diranting hijau yang segar

Dua...

Tiga...

Bahkan puluhan duri itu berjajar rapi dengan formasi zig zag

Siapa yang mampu menembus pertahan seperti itu? batin lelaki muda yang hendah memetik si kuncup

Jika saja mawar tak berduri...

Kan kuremas ia hinga kuncupnya...

Lelaki itu mamalingkan muka dari ranting mawar berduri

Di tatapnya seulas senyum gadis bermata biru yang duduk dikursi tengah taman

Para algojo cinta siap menerkam siapa saja yang hendak merengkuhnya...


Wednesday, September 2, 2015

Sentuh Ini...

Apakah kau bisa melihat angin yang berhembus?
Apakah kau bisa merasakan dingin yang menusuk?

Apakah kau mendengar suara Matahari?
Apakah kau bisa merasakan hangatnya sang surya di kala pagi?

Apakah kau pernah menyentuh lembutnya hati?
Apakah kau merasakan sakit nya hati?

Ya.
kadang yang tak bisa dilihat, bisa dirasakan
yang tak bisa didengar juga bisa dirasakan
yang tak bisa di sentuh pun juga bisa dirasakan...

... ...

Yang merasakan itu Hati.
Hati yang merasakan...

Air mata bisa menitik saat kita merasa sedih...
Mata pun berbinar saat kita merasa bahagia

Hati yang merasakan...

Pernahkan engkau menyentuh Hati seseorang?
Rasa hati tak bisa disentuh dan diraba dengan tangan...
Tapi hati bisa tersentuh...

Sentuhlah hati dengan ketulusan...

Melukismu di musim semi

Jangan kan duduk disampingmuBerpapasan denganmu pun panas rasa badan ku

Jangan kan menyentuhmu
Melihatmu pun aku bergetar rasa hatiku

Jangan kan menatapmu
Melirikmu pun aku tak bernyali

Jangan kan mendambamu
Merindumu pun aku tak berani

Jangan kan mengatakan padamu
Menyimpan di hati pun aku takut setengah mati

Namun hati tak bisa didustai
Ia berkata dari naluri

Ia tetap ingin melukismu di musim semi
Seindah tunas-tunas baru yang mencari matahari

Seindah bunga mekar menyambut cerahnya pagi
Mendamba kasih yang tulus murni

Awan berarak menghiasi biru langit di kala pagi
Menemani mentari mengisi hari

Namun, tak ada satu kata pun yang sanggup mewakili
Tuk melukismu saat ini,

Meskipun hati berhasrat tuk tetap melukismu
Lembaran putih tak berisi dan tak berisi hingga kini

Hanya menatapi indahnya musim semi dan tetap ingin melukismu
Meskipun itu hanya di dalam hati
Dan ia tetap bersemi...

Ibu... ku dapati kau di sini

ibu aku merindukan kerut dahimu...aku merindukan tawa kecilmu...
aku merindukan harum khas keringat yang melekat dibajumu...
aku merindukan itu ibu...

kau rengkuh, kau dekap aku dalam pelukmu kala itu...
kau usap rambut kumalku yang bercampur debu...
kau perlihatkan pelangi yang mewarnai langit biru pagi itu...

ibu... kau memang tak disampingku... kau memang jauh dariku...
ibu... di sini aku merasakan rengkuhan, dekapan dan sayang itu...
aku merasakan kehadiran ibu...

ibu... kau telah membangunkan tidurku...
kini aku telah berjalan menapakan kaki kecil ini...
aku akan mencarinya ibu...
aku akan mendapatinya ibu...
aku akan meraihnya ibu...

ibu... terima kasih tlah membangun kan tidurku...

Runtuh

Langit gelap gulita, petir meyambar tonggak-tonggak kayu
yang menganga di tanah tandus tak berbulu, tak berakar tak ber urat

Hujan menikam, menusuk-nusuk, merong-rong, mengguncang-guncang
tonggak kayu yang lapuk dimakan rayap-rayap cinta

Deru angin membahana, mencabik-cabik, menampar, membesut
mengobrak-abrik lorong-lorong hati

Suara petir menggempur, memecah, membelah dinding-dinding langit
sudut-sudut bumi

Tak bisa lari kemana.
di atas tebing, kau mematung, membatu, pasrah tak ada daya

Hujan yang menikan
Angin yang mencabik
Petir yang membelah lorong, sudut dan dinding hati

Rayap-rayap cinta  menggerogoti tahta kebebasan  jiwa yang lapuk
Kau lumatkan diri dalam sangkala menanti awan menggulung raga

Runtuh... diakhir kata
Bangkit... diakhir kata